Tentang Sejarah Negara Singapura Yang Penuh Dengan Warna

Negara singapura didirikan oleh siapa sih? Untuk menjawab pertanyaan ini, kamu harus tau terlebih dahlulu sejarah negara Singapura ini.

Sejarah Singapura adalah kisah yang penuh warna, dari masa lalu yang kaya akan liku-liku perubahan hingga kemenangan yang mengukir jalan bagi pembentukan negara modern yang kita kenal hari ini. Mari kita jelajahi perjalanan panjang Singapura melalui kilasan masa lalu yang menarik.

Sejarah Singapura Pada Zaman Dahulu Kala

Meskipun catatan sejarah awal Singapura masih belum dapat dipastikan keabsahannya, namun ada beberapa referensi yang menggambarkan keberadaannya pada zaman dahulu.

Salah satunya berasal dari catatan bangsa Tionghoa pada abad ketiga, yang menyebutnya sebagai “Pu-luo-chung”, yang kemungkinan merujuk pada “Pulau Ujong” dalam bahasa Melayu, yang berarti “pulau di ujung semenanjung”.

Kemudian, kota ini dikenal sebagai Temasek, yang berarti “Kota Laut”, ketika pemukiman pertama didirikan pada tahun 1298-1299 Masehi.

Pada abad ke-14, Singapura mendapat julukan baru yang terkenal hingga saat ini.

Menurut legenda, Sang Nila Utama, seorang pangeran dari Palembang, mendirikan kota di mana ia melihat seekor hewan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya.

Beliau menamai kota ini Singapura, yang diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti “kota singa”, menggabungkan kata “simha” (singa) dan “pura” (kota). Ini menandai awal dari keberadaan Singapura sebagai kota yang berkembang pesat.

[ Baca Juga: Explore Singapore: Panduan Trip Jalan Jalan Ke Singapura ]

Sir Thomas Stamford Raffles, Pembentuk Negara Singapura Modern

Sir Thomas Stamford Raffles, Pembentuk Negara Singapura Modern

Dalam sejarah negara Singapura modern sebagian besar berutang kepada seorang pria bernama Sir Thomas Stamford Raffles, yang memainkan peran kunci dalam pembentukan kota ini pada abad ke-19.

Pada waktu itu, Inggris sedang mencari pelabuhan singgah di wilayah ini untuk menjadi pangkalan armada niaganya dan untuk menghadapi dominasi Belanda.

Pada 29 Januari 1819, Raffles tiba di Singapura dan menyadari potensi besar pulau ini. Dengan bantuan penguasa setempat, ia menjadikan Singapura sebagai pos perdagangan yang strategis.

Singapura dengan cepat berkembang sebagai pusat perdagangan yang penting, menarik imigran dari berbagai belahan dunia.

Pada tahun 1822, Raffles mengeluarkan Raffles Town Plan, yang dirancang untuk mengatasi masalah ketidakteraturan di kota ini.

Plan ini membagi daerah pemukiman etnis menjadi empat wilayah yang berbeda, menciptakan European Town, Chinatown, Chulia Kampong, dan Kampong Gelam.

Langkah ini membantu menciptakan identitas etnis yang kuat di Singapura.

[ Baca Juga: Cara Naik MRT Di Singapura Untuk Pergi Ke Bandara Changi Singapore! ]

Perang dan Perdamaian

Perang Dunia II menghadirkan tantangan besar bagi Singapura.

Pada 8 Desember 1941, Jepang menyerang pulau ini, memicu periode kegelapan dalam sejarah negara Singapura.

Meskipun pasukan Sekutu menyerah kepada Jepang pada Februari 1942, Singapura tetap bertahan dan akhirnya kembali ke tangan Inggris setelah Jepang menyerah pada 1945.

Setelah perang, Singapura terus berjuang menuju kemerdekaannya.

Pada 1959, pertumbuhan nasionalisme menghasilkan pemerintahan mandiri pertama di Singapura, dengan People’s Action Party (PAP) di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew.

Jalan Menuju Kemerdekaan

Pada 1963, Singapura bergabung dengan Malaysia dalam upaya untuk menciptakan negara yang lebih besar dan lebih kuat.

Namun, penyatuan ini tidak berhasil, dan Singapura akhirnya memilih untuk menjadi negara merdeka pada 9 Agustus 1965.

Ini adalah awal dari Singapura sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

Hingga hari ini, jejak-jejak sejarah yang kaya dari masa lalu negara Singapura dapat ditemukan di seluruh kota.

Monumen, museum, dan tugu peringatan adalah saksi bisu dari perjalanan panjang yang telah dilalui negara ini.

Melalui warisan budaya ini, kita dapat menghormati masa lalu sambil melangkah maju menuju masa depan yang cerah.

Dengan mengenang perjalanan penuh warna ini, kita dapat lebih memahami Singapura dan apresiasi akan kekayaan budayanya yang unik.

Dengan demikian, sejarah Singapura bukanlah hanya kumpulan tanggal dan peristiwa, tetapi cerita tentang kekuatan, perubahan, dan ketahanan yang telah membentuknya menjadi apa adanya hari ini.

Tentu saja, dengan mengunjungi singapura, kamu bisa napak tilas jejak dan menghormati warisan sejarah Singapura.

[ Baca Juga: Bandara Changi Singapura: Panduan Berkunjung ]

FAQ – Pertanyaan Umum tentang Singapura

FAQ - Pertanyaan Umum tentang Sejarah Negara Singapura

Berikut adalah beberapa pertanyan tersebut.

1. Apa Ibu Kota Singapura?

Ibu kota Singapura adalah Singapura sendiri. Singapura memiliki nama negara dan ibu kota yang sama.

2. Apakah Singapura Memiliki Nama Lain?

Singapura tidak memiliki nama lain yang sangat populer, namun disebut juga dengan “Republik Singapura”.

Adapun latar belakang penamaan Singapura, nama ini berasal dari bahasa Melayu (“Singapura”) yang berarti “Kota Singa”, dimana “simha” berarti singa dan “pura” berarti kota dalam bahasa Sanksrit.

Legenda mengatakan bahwa Singapura didirikan oleh Sang Nila Utama, seorang pangeran dari Sumatra, selepas melihat seekor binatang yang dilihatinya seperti singa.

Dalam sejarah yang ada, Negara Singapura pernah ditaklukan oleh British sebagai koloni, sebelum mendapatkan kemerdekaan.

Saat Perang Dunia II, Singapura berubah nama menjadi Syonan-to ketika dikelola oleh Jepang.

Namun, setelah perang, Singapura kembali menggunakan nama aslinya yang sama dengan nama ibu kota, yaitu Singapura.

3. Mengapa Singapura Disebut Negara Kota?

Singapura disebut sebagai “negara kota” karena ukuran wilayahnya relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara umum.

Luas Singapura hanya sekitar 728,6 km², yang membuatnya menjadi negara terkecil ke-19 di dunia.

Walaupun wilayahnya begitu sempit, Singapura merupakan negara maju yang kompetitif dalam berbagai bidang ekonomi, politik, dan sosial.

Faktor ini memberikan gambaran bahwa walaupun Singapura mirip dengan struktur seperti kota besar modern, dia masih merupakan sebuah negara independen dengan sistem institusi pemerintahan yang matang.

4. Apa Etnis Terbesar di Singapura?

Etnis terbesar di Singapura adalah etnis Tionghoa, yang mencakup sekitar tiga perempat penduduk negara (sekitar 75%).

5. Mayoritas Penduduk Singapura adalah Suku Bangsa Apa?

Mayoritas penduduk Singapura adalah suku bangsa Tionghoa. Menurut informasi dari referensi etnis Tionghoa mencakup sekitar 74,1% hingga 77,3% dari total penduduk Singapura, yang membuat mereka menjadi kelompok etnis terbesar di negara tersebut.

Etnik Melayu merupakan golongan minoritas yang penting, termasuk penduduk asli Singapura, dengan angka sekitar 14%.

Sedangkan etnis India mencakup kurang dari 10%, dan etnis lainnya sekitar 1,3%.

6. Negara Mana yang Pernah Menjajah Singapura?

Singapura pernah menjadi bagian dari Imperium Britania Raya sebelum akhirnya merdeka.

Sejarah kolonialisme di Negara Singapura juga melibatkan Portugal, Belanda, dan Jugra Melayu sebelum jatuh di bawah kekuasaan Britania Raya.

Sebelum abad ke-19, Singapura merupakan bagian dari Imperium Britania Raya (British Empire).

Maka, Singapura pernah ditaklukan oleh British sebagai koloni.

Namun, sejarah kolonialisme di Singapura bukan hanya dilatarbelakangi oleh Britain; negara ini turut diperebutkan oleh Portugal, Belanda, dan Jugra Melayu sebelum akhirnya didominasi oleh British.

Setelah mewujudkan Merdeka (Independence), Singapura mulai fase baru sebagai republik demokratis yang mandiri.

Menelusuri Jejak Sejarah Perang Dunia II

Saat saya tiba di Berlin, Jerman, saya merasa sangat antusias untuk menjelajahi kota ini dengan cara yang paling autentik, yaitu dengan berjalan kaki mengikuti Berlin Walking Tour.

Berlin adalah kota yang sarat dengan sejarah, terutama sejarah Perang Dunia II dan Perang Dingin.

Dalam tur jalan kaki ini, saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat bersejarah yang menandai peristiwa penting selama periode perang dan pascaperang.

Berikut adalah pengalaman saya menjelajahi Berlin dengan berjalan kaki.

Video Blog Telusuri Jejak Sejarah Perang Dunia II Dengan Mengikuti Berlin Walking Tour

 

 

My Instagram : instagram.com/catperku
My Youtube : youtube.com/@catperku

Mengenal Checkpoint Charlie

Checkpoint Charlie. Bekas perbatasan Jerman Barat dan Jerman Timur bagian Amerika. Saksi bisu kalau dulu Jerman pernah terbagi menjadi dua

Salah satu tempat pertama yang saya kunjungi adalah Checkpoint Charlie, yang merupakan salah satu simbol paling ikonik dari Perang Dingin.

Checkpoint Charlie adalah perlintasan perbatasan yang terletak di Berlin, yang sebelumnya memisahkan wilayah Jerman Barat dan Jerman Timur.

Pada masa Perang Dingin, Checkpoint Charlie menjadi simbol dari konfrontasi politik antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

[ Baca Juga: Naik Sepeda Keliling Berlin Jerman: Petualangan Seru di Kota Ramah Sepeda ]

Menelusuri Sejarah Tembok Berlin

Selanjutnya, dalam rangkaian Berlin Walking Tour ini, saya melanjutkan perjalanan menuju reruntuhan Tembok Berlin.

Tembok Berlin adalah struktur fisik yang memisahkan Berlin Timur dan Berlin Barat selama hampir tiga dekade selama Perang Dingin.

Tembok ini dibangun oleh pemerintah Jerman Timur pada tahun 1961 untuk mencegah warga Jerman Timur kabur ke Jerman Barat.

Meskipun sebagian besar tembok telah dirobohkan setelah reunifikasi Jerman pada tahun 1989, beberapa bagian masih ada sebagai pengingat akan masa lalu yang gelap.

[ Baca Juga: Cerita 5 Hari Liburan Ke Berlin! ]

Berjalan di Sepanjang Jalur Tembok Berlin

Sisa-sisa dari Tembok Berlin yang pernah membagi negara ini menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur juga ada dalam itinerary Berlin Walking Tour!

Saya melanjutkan perjalanan berjalan kaki saya di sepanjang jalur Tembok Berlin yang tersisa.

Sambil berjalan, saya bisa melihat lukisan grafiti yang menghiasi tembok, yang menjadi bentuk ekspresi seni dan protes terhadap masa lalu yang kelam.

Setiap lukisan memiliki cerita dan pesan tersendiri, mencerminkan kompleksitas sejarah dan perasaan kolektif masyarakat Berlin terhadap masa lalu mereka.

Mengunjungi Museum Sejarah

Selama mengikuti Berlin Walking Tour saya, saya juga sempat mampir ke beberapa museum sejarah di Berlin.

Salah satunya adalah Museum Sejarah Jerman, yang menampilkan koleksi artefak dan dokumentasi tentang sejarah Jerman dari zaman kuno hingga masa modern.

Museum ini memberikan wawasan yang mendalam tentang perjalanan sejarah Jerman, termasuk periode Perang Dunia II dan Perang Dingin.

[ Baca Juga: Jalan Jalan Jelajah Tempat Wisata Sejarah Di Kota Berlin! ]

Meresapi Atmosfer Kota Berlin

Selain bus dan kereta, moda transportasi utama penduduk berlin adalah sepeda!

Selain mengunjungi tempat-tempat bersejarah, saya juga menikmati meresapi atmosfer kota Berlin yang kaya akan budaya dan seni.

Saya berjalan-jalan di sepanjang jalan-jalan kota yang dipenuhi dengan kafe, restoran, toko-toko, dan galeri seni.

Saya juga berinteraksi dengan penduduk setempat dan wisatawan lainnya, berbagi cerita dan pengalaman tentang petualangan kami di Berlin.

[ Baca Juga: Pengalaman Kulineran, Berburu Kuliner Di Berlin Jerman! ]

Pengalaman Berharga, Belajar Sejarah PD II Secara Langsung di Berlin

Terus terang, mengikuti Berlin Walking Tour adalah pengalaman yang sangat berharga dan memuaskan.

Saya tidak hanya mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang sejarah kota ini, tetapi juga merasakan atmosfernya yang unik dan memikat.

Melalui setiap langkah yang saya ambil, saya merasa semakin terhubung dengan masa lalu dan kehidupan saat ini di Berlin.

Saya sangat merekomendasikan kepada siapa pun yang berkunjung ke Berlin untuk menjelajahi kota ini dengan berjalan kaki agar dapat merasakan pesonanya yang sesungguhnya.

Tempat Wisata Sejarah Unik Di 2024

Hai, teman-teman! Saya akan membawa kalian ke sebuah destinasi wisata yang unik dan menarik, yaitu Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini memiliki sejarah yang kaya dan bentuk arsitektur yang tidak lazim, membuatnya menjadi tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Jadi, mari kita telusuri lebih dalam tentang keajaiban Candi Sukuh ini!

Sejarah Candi Sukuh: Penemuan dan Pembangunan

 

 

My Instagram : instagram.com/catperku
My Youtube : youtube.com/@catperku

Sejarah Candi Sukuh dimulai dengan penemuan pertamanya pada tahun 1815, saat masa pemerintahan Britania Raya di Jawa.

Penemuan ini dilakukan oleh seorang pejabat Britania Raya bernama Johnson, yang ditugaskan untuk mengumpulkan data sejarah Jawa untuk buku berjudul “The History of Java” yang ditulis oleh Thomas Stanford Raffles.

Namun, pemugaran dan penelitian lebih lanjut baru dimulai pada tahun 1842 oleh seorang arkeolog Belanda bernama Van der Vlis.

Lokasi Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu, sekitar 1.186 meter di atas permukaan laut.

Candi ini secara administratif terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Untuk mencapai lokasi ini, kamu perlu menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dari Kota Karanganyar atau sekitar 36 kilometer dari Surakarta.

[ Baca Juga: Sejarah Hingga Seputar Info Wisata Candi Cetho Di Karanganyar ]

Bentuk Arsitektur yang Unik

Salah satu hal yang membuat Candi Sukuh begitu menarik adalah bentuk arsitekturnya yang sangat unik.

Candi ini memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok, dan kamu akan terpesona oleh keunikan bentuknya.

Beberapa pengunjung bahkan menganggap bahwa candi ini mirip dengan bangunan-bangunan kuno di Meksiko atau Peru.

Bentuknya yang tidak lazim ini telah menarik perhatian para peneliti sejak tahun 1930.

Mereka memberikan argumen bahwa pembangunan Candi Sukuh mungkin dilakukan dengan terburu-buru, sehingga strukturnya tidak seindah Candi Prambanan atau Borobudur yang terkenal.

Bentuk Arsitektur yang Unik Candi Sukuh

[ Baca Juga: Rekomendasi Tempat Wisata Di Tawangmangu Terbaru Viral Populer! ]

Eksplorasi Teras-Teras Candi

Candi Sukuh terdiri dari beberapa teras, masing-masing dengan elemen arsitektur yang menarik. Mari kita eksplorasi teras-teras ini lebih detail:

Teras Pertama Candi Sukuh

Teras pertama candi memiliki sebuah gapura utama yang mencolok.

Di gapura ini terdapat sengkala memet dalam bahasa Jawa yang berbunyi “gapura buta aban wong” yang memiliki makna angka 9, 5, 3, dan 1.

Jika angka-angka ini dibalik, maka didapatkan tahun 1359 Saka (1437 Masehi).

Meskipun sering dianggap sebagai tahun berdirinya candi ini, kemungkinan besar itu adalah tahun selesainya pembangunan gapura ini.

Di sisi gapura, terdapat relief sengkala memet berwujud gajah bersorban yang menggigit ekor ular.

Ini dianggap sebagai representasi dari “raksasa gapura menggigit ekor,” yang juga dapat ditafsirkan sebagai 1359 Saka.

Teras Kedua Candi Sukuh

Teras kedua candi memiliki gapura yang saat ini sudah rusak.

Di sisi kiri dan kanan gapura, terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, meskipun patung-patung ini dalam kondisi rusak dan sulit dikenali.

Gapura ini tidak memiliki atap, dan pada teras ini, kamu tidak akan menemukan banyak patung-patung seperti pada teras pertama.

Di gapura ini terdapat pula candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi “gajah wiku anahut buntut,” yang berarti “Gajah pendeta menggigit ekor” dalam bahasa Indonesia.

Angka-angka ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik, maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Teras Ketiga Candi Sukuh

Teras ketiga merupakan tempat yang menarik dengan pelataran besar, candi induk, dan sejumlah panel berelief di sebelah kiri, serta patung-patung di sebelah kanan.

Di atas candi utama, terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya digunakan untuk meletakkan sesajian.

Kamu bahkan dapat melihat bekas-bekas kemenyan, dupa, dan hio yang telah dibakar, menunjukkan bahwa tempat ini masih sering digunakan untuk bersembahyang.

Pada teras ketiga ini, kamu akan menemukan panel-panel relief yang menceritakan mitologi utama Candi Sukuh, yaitu Kidung Sudamala.

Mari kita lihat urutan reliefnya:

Panel Pertama

Pada relief pertama, terdapat gambar Sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula yang merupakan yang termuda dari Pandawa Lima.

Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok, diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring.

Berhadapan dengan Sadewa, terlihat seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.

Panel Kedua

Pada relief kedua, Dewi Durga digambarkan dalam wujud raksasi (raksasa wanita) yang menakutkan.

Dua raksasa mengerikan, Kalantaka dan Kalañjaya, menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam untuk membunuh Sadewa.

Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa.

Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga.

Di belakangnya terlihat hantu-hantu yang melayang dan di atas pohon ada dua ekor burung hantu.

Lukisan ini kelihatannya menggambarkan suasana mengerikan di Setra Gandamayu, tempat para dewa diusir dari surga karena pelanggaran.

Ada berbagai relief unik di Candi Sukuh Karanganyar ini!

Panel Ketiga

Pada bagian ketiga, terdapat cerita tentang Sadewa yang bersama punakawannya, Semar, berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas.

Sadewa akan menyembuhkan Tambrapetra dari kebutaannya.

Panel Keempat

Panel keempat menggambarkan adegan di sebuah taman indah di mana Sadewa berbincang-bincang dengan Tambrapetra dan putrinya, Ni Padapa, serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas.

Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.

Panel Kelima

Panel kelima menggambarkan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa, Kalantaka dan Kalañjaya.

Relief hanya menunjukkan salah satu dari kedua raksasa tersebut. Bima, dengan kekuatannya yang luar biasa, sedang mengangkat raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya.

Di sini terdapat sebuah inskripsi dalam aksara Kawi berbahasa Jawa Kuno yang berbunyi “padamel rikang buku[r] tirta sunya,” yang memiliki sengkalan tahun 1361 Saka (1439 Masehi).

[ Baca Juga: Mengagumi Candi Ijo Sekaligus Lansekap Yogyakarta Dari Ketinggian ]

Patung-Patung Garuda dan Kisah Pencarian Tirta Amerta

Selain relief-relief dan bangunan candi, Candi Sukuh juga memiliki beberapa patung-patung yang menarik perhatian, seperti patung Garuda.

Garuda adalah bagian dari kisah pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Mahabharata.

Di ekor Garuda terdapat sebuah inskripsi yang melambangkan tahun 1363 Saka (1441 Masehi).

Selain itu, terdapat juga tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan Dewa Wisnu.

Kura-kura-kura ini tampaknya dirancang sebagai tempat untuk meletakkan sesajian.

Sebuah piramida yang puncaknya terpotong menggambarkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta.

Di samping patung-patung tersebut, kamu juga akan menemukan beberapa patung hewan lainnya, seperti celeng (babi hutan) dan gajah berpelana.

Pada masa lalu, hewan-hewan ini memiliki makna penting dalam budaya dan simbolisme Jawa.

Gajah, misalnya, sering digambarkan sebagai wahana ksatria dan kaum bangsawan.

Ada juga sebuah bangunan kecil yang disebut candi pewara di depan candi utama.

Di tengahnya, bangunan ini memiliki lubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala.

Patung ini masih dikeramatkan oleh beberapa kalangan dan sering kali diberi sesajian.

[ Baca Juga: Candi Penataran, Keajaiban Sejarah Hindu di Lereng Gunung Kelud ]

Pengalaman Wisata di Candi Sukuh

Pengalaman Wisata di Candi Sukuh!

Sekarang, mari kita bicarakan pengalaman wisata di Candi Sukuh.

Tempat ini menawarkan pengalaman yang sangat menarik bagi para pengunjung yang tertarik dengan sejarah, arkeologi, dan budaya Jawa kuno.

Berikut adalah beberapa tips dan pengalaman yang bisa kamu nikmati saat mengunjungi Candi Sukuh:

1. Menikmati Keindahan Arsitektur

Candi Sukuh dikenal karena arsitektur yang unik dan berbeda dari candi-candi Hindu lainnya di Indonesia.

Ketika kamu mengunjungi candi ini, pastikan untuk mengagumi detail-detail arsitekturnya yang menarik, termasuk relief-relief dan patung-patung yang penuh makna.

2. Belajar Tentang Sejarah dan Mitologi

Dengan mengelilingi teras-teras candi dan membaca deskripsi yang disediakan, kamu akan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang sejarah dan mitologi yang melingkupi Candi Sukuh.

Ini adalah kesempatan yang baik untuk belajar tentang kisah-kisah epik dalam kitab Mahabharata dan budaya Hindu di Jawa.

3. Bersantai di Alam Hijau

Lokasi Candi Sukuh yang terletak di lereng Gunung Lawu memberikan suasana yang sejuk dan asri.

Selama perjalanan menuju candi ini, kamu akan melintasi pemandangan alam yang indah untuk dinikmati.

Jangan ragu untuk membawa bekal piknik dan bersantai di sekitar candi sambil menikmati udara segar.

4. Berinteraksi dengan Penduduk Lokal

Jika kamu memiliki kesempatan, berbicaralah dengan penduduk lokal di sekitar Candi Sukuh.

Mereka mungkin memiliki cerita atau pengetahuan tambahan tentang sejarah dan budaya candi ini.

Selain itu, kamu juga dapat mencoba makanan dan kuliner khas daerah tersebut.

5. Jaga Kebersihan dan Kehormatan Lokal

Selalu ingat untuk menjaga kebersihan selama kunjungan kamu dan menghormati aturan dan tradisi yang berlaku di tempat suci ini.

Jangan meninggalkan sampah, dan patuhi petunjuk dari petugas keamanan atau pemandu wisata.

[ Baca Juga: Wisata Grojogan Sewu Di Tawangmangu Serasa Air Terjun Pribadi! ]

Alamat, Peta Lokasi Dan Harga Tiket Masuk Ke Candi Sukuh Di 2024

Candi Sukuh ini lokasinya berada di lereng Gunung Lawu, tepatnya di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Peta Lokasi

Jam Buka Candi Sukuh

Candi Sukuh ini buka setiap hari mulai dari Jam 07.00 WIB hingga 15.00 WIB.

Harga Tiket Masuk Candi Sukuh Di 2024

Untuk masuk ke Candi Sukuh kamu cukup membayar tiket sebesar IDR 10.000

Rencanakan Perjalanan ke Candi Sukuh

Sebelum mengunjungi Candi Sukuh, pastikan untuk merencanakan perjalananmu dengan baik.

Kamu dapat mencari informasi lebih lanjut tentang jam operasional, tiket masuk, dan panduan wisata di situs resmi Candi Sukuh atau kantor pariwisata setempat.

Juga, perhatikan cuaca dan waktu terbaik untuk mengunjungi candi ini agar kamu dapat menikmati pengalaman wisata yang optimal.

Jadi, jika kamu mencari destinasi wisata yang unik dan ingin menjelajahi sejarah serta keindahan arsitektur, pertimbangkan untuk mengunjungi Candi Sukuh di Karanganyar, Jawa Tengah.

Tempat ini akan membawa kamu kembali ke masa lalu dan memberikan pengalaman wisata yang tak terlupakan.

Semoga perjalanan kamu menjadi petualangan yang penuh pengetahuan dan keindahan!

Cerita Sejarah Hindu di Lereng Gunung Kelud

Candi Penataran, juga dikenal sebagai Candi Palah, adalah sebuah kompleks candi Hindu Siwa yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Dibangun pada periode pemerintahan Raja Srengga pada abad ke-12, candi ini merupakan salah satu kompleks candi Hindu terluas dan termegah di Jawa Timur. Dalam tulisan ini, kita akan menjelajahi lebih dalam tentang sejarah, arsitektur, dan makna budaya dari Candi Penataran.

Sejarah Candi Penataran

 

 

My Instagram : instagram.com/catperku
My Youtube : youtube.com/@catperku

Candi Penataran memiliki sejarah yang kaya dan beragam.

Dibangun pada masa Kerajaan Kediri, candi ini digunakan untuk upacara pemujaan guna menangkal bahaya Gunung Kelud, yang terletak di sebelah barat daya candi.

Pada masa Kerajaan Majapahit, Candi Penataran masih digunakan untuk keperluan keagamaan, seperti yang tercatat dalam Kitab Negarakertagama.

Kitab Negarakertagama mencatat bahwa Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pernah mengunjungi Candi Penataran dalam perjalanannya keliling Jawa Timur.

Dia melakukan pemujaan terhadap Hyang Acalapat, perwujudan Siwa sebagai Girindra atau Dewa Penguasa Gunung.

Nama Girindra dalam Kitab Negarakertagama memiliki kemiripan dengan gelar Ken Arok saat menjadi Raja Singasari.

Ini memunculkan debat di kalangan ahli tentang apakah Candi Penataran adalah tempat pendharmaan atau perabuan Ken Arok.

Selain itu, catatan Sunda abad ke-15 yang mencatat perjalanan bangsawan Kerajaan Sunda bernama Bujangga Manik juga mengaitkan Candi Penataran dengan aktivitas belajar agama dan ziarah.

Namun, candi ini juga digunakan oleh peziarah untuk tujuan duniawi.

Setelah berabad-abad tidak terawat, Candi Penataran pertama kali ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815, yang merupakan seorang administrator kolonial Inggris di Jawa.

[ Baca Juga: Mengagumi Candi Ijo Sekaligus Lansekap Yogyakarta Dari Ketinggian ]

Arsitektur dan Kompleks Bangunan Candi Penataran

Arsitektur dan Kompleks Bangunan Candi Penataran

Kompleks bangunan Candi Penataran terletak di atas tanah seluas hampir 13.000 meter persegi, yang dibagi menjadi tiga bagian: halaman depan, tengah, dan belakang.

Bangunan-bangunan dalam kompleks ini memiliki susunan yang unik dan tidak simetris, menunjukkan bahwa pembangunannya terjadi dalam periode yang berbeda.

Halaman Depan

1. Pintu Gerbang

Halaman depan Candi Penataran memiliki pintu gerbang yang diapit oleh dua Arca Dwarapala sebagai penjaga pintu, berangka tahun 1242 Saka atau 1320 Masehi.

Pintu gerbang ini adalah awal dari perjalanan menuju kompleks candi yang megah.

2. Bale Agung

Bale Agung adalah salah satu bangunan yang terletak di bagian barat laut halaman depan. Bangunan ini terbuat dari batu dengan dinding polos dan memiliki empat buah tangga.

Bale Agung diduga digunakan sebagai tempat musyawarah para pendeta.

3. Pendopo Teras

Pendopo teras adalah bangunan batu berbentuk empat persegi panjang yang berada di sebelah tenggara Bale Agung.

Bangunan ini berangka tahun 1297 Saka atau 1375 Masehi dan diperkirakan digunakan sebagai tempat meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan atau sebagai tempat peristirahatan raja dan bangsawan lainnya.

Di dinding pendopo teras terdapat relief-relief yang menggambarkan berbagai kisah, seperti cerita Bubhuksah dan Gagang Aking, Sang Satyawan, dan Sri Tanjung.

4. Candi Candra Sengkala (Candi Brawijaya)

Candi Candra Sengkala juga dikenal sebagai Candi Brawijaya. Bangunan ini memiliki angka tahun 1291 Saka atau 1369 Masehi dan di dalamnya terdapat arca Ganesha.

Lokasinya berada di sebelah tenggara bangunan pendopo teras. Di sebelah kirinya, terdapat arca wanita yang diidentifikasi sebagai perwujudan Gayatri Rajapatni.

Halaman Tengah

Halaman tengah Candi Penataran merupakan tempat di mana terdapat dua arca Dwarapala dalam ukuran yang lebih kecil daripada di pintu masuk candi.

Dwarapala ini memiliki angka tahun 1214 Saka atau 1319 Masehi.

Halaman Belakang

Halaman belakang dianggap sebagai tempat yang paling sakral dalam kompleks candi ini.

Di sini, terdapat bangunan candi utama dan Prasasti Palah.

1. Candi Utama

Candi utama terdiri dari tiga teras dengan tinggi mencapai 7,19 meter.

Di setiap sisi tangga terdapat dua arca Mahakala yang berangka tahun 1269 Saka atau 1347 Masehi.

Di dinding teras pertama candi ini terdapat relief-relief yang menggambarkan cerita Ramayana.

Selain itu, ada sebuah candi kecil dari batu yang oleh orang Belanda dulu dinamakan “bathara kecil.”

2. Prasasti Palah

Prasasti Palah adalah prasasti berangka tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi yang ditemukan di halaman Candi Penataran.

Prasasti ini menggambarkan kebahagiaan Raja Kertajaya karena selamat dari bencana.

Prasasti ini ditulis dalam sebuah linggapala oleh Mpu Amogecwara atau Mpu Talaluh.

[ Baca Juga: Sejarah Hingga Seputar Info Wisata Candi Cetho Di Karanganyar ]

Makna Budaya dan Keagamaan

Candi Penataran memiliki makna budaya dan keagamaan yang mendalam dalam sejarah Jawa Timur.

Fungsi awal candi ini sebagai tempat pemujaan guna menangkal bahaya Gunung Kelud mencerminkan pentingnya hubungan antara alam dan manusia dalam budaya Hindu di Jawa.

Penggunaan Candi Penataran sebagai tempat peribadatan dan pendharmaan oleh Raja Hayam Wuruk menunjukkan peran penting candi ini dalam praktik keagamaan dan spiritual pada masa Majapahit.

Kisah-kisah yang diukir dalam relief candi, seperti Ramayana dan kisah-kisah lainnya, menjadi bagian integral dari warisan budaya Jawa Timur.

Selain itu, Prasasti Palah menjadi saksi sejarah tentang peristiwa penting dalam kehidupan Raja Kertajaya.

Prasasti ini mengabadikan rasa syukur dan penghormatan kepada para dewa atas kelangsungan hidupnya.

Kisah Relief Candi Penataran: Wayang Kulit di Batu

Kisah Relief Candi Penataran: Wayang Kulit di Batu

Relief-relief yang menghiasi Candi Penataran tidak hanya menjadi bagian dari arsitektur kuno, tetapi juga menjalani peran penting dalam memperkaya budaya dan sejarah Indonesia.

Di sini, saya akan membawamu ke dalam perjalanan melalui cerita-cerita yang terukir dengan indah di dinding candi ini, seperti Bubhuksah dan Gagang Aking, Sri Tanjung, dan kisah Ramayana dan Kresnayana.

Bubhuksah dan Gagang Aking: Kisah Ikhlas dalam Hidup

Pada sebagian dinding Pendopo Teras sisi timur Candi Penataran, terukir kisah yang unik tentang Bubhuksah dan Gagang Aking.

Cerita ini mengajarkan kita tentang keikhlasan dalam menjalani hidup.

Bubhuksah, digambarkan sebagai makhluk yang berbadan besar, memiliki sifat-sifat yang mencolok.

Dia senang memakan apa pun, tetapi dia juga dikenal karena kemurahan hatinya dan ketidakpernahannya tidur.

Sebaliknya, Gagang Aking adalah sosok yang kurus kering, suka berpuasa, dan sering tidur.

Mereka adalah dua individu dengan karakteristik yang sangat berbeda.

Suatu hari, Dewa Siwa menjelma menjadi macan putih dan hendak memangsa keduanya.

Tujuan dewa ini adalah menguji keikhlasan Bubhuksah dan Gagang Aking. Tanggapan keduanya sangat mencerminkan kepribadian mereka.

Gagang Aking berkata, “Saya orang yang kurus, jangan makan saya, tetapi makanlah teman saya yang gemuk.”

Sementara Bubhuksah dengan tulus berkata, “Silakan makanlah tubuh saya.”

Dalam ujian ini, Bubhuksah lulus dan diberi hak untuk masuk surga oleh sang macan putih.

Kisah ini mengandung hikmah bahwa keikhlasan dalam menjalani hidup adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan dan penerimaan dari yang Maha Kuasa.

[ Baca Juga: Pura Penataran Agung Lempuyang: Harga Tiket, Tips Berkunjung! ]

Sri Tanjung: Kisah Cinta dan Pengorbanan

Relief-relief di Candi Penataran juga menghadirkan kisah cinta dan pengorbanan yang mengharukan.

Salah satunya adalah kisah Sri Tanjung, yang terukir pada relief Pendopo Teras. Kisah ini penuh dengan intrik, cinta, dan perjuangan.

Kisah dimulai dengan Raden Sidapaksa, yang mengabdi kepada Raja Sulakrama di Negeri Sindurejo.

Sidapaksa diutus untuk mencari obat oleh raja, dan dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Sri Tanjung.

Mereka jatuh cinta satu sama lain, dan Sidapaksa membawa Sri Tanjung kembali ke Sindurejo setelah menjadi istrinya.

Namun, Raja Sulakrama tergila-gila pada Sri Tanjung dan berusaha untuk memisahkan mereka.

Sidapaksa kemudian diutus ke Sorga dengan tugas membawa surat yang berisi ancaman untuk menyerang surga.

Dengan bantuan selendang yang diberikan oleh ayah Sri Tanjung, Raden Sudamala, Sidapaksa berhasil mencapai surga.

Namun, di surga, ia dihadapkan dengan berbagai cobaan dan hambatan yang dia lawan dengan gagah berani.

Akhirnya, dengan menyebut leluhurnya, Pandawa, Sidapaksa dibebaskan dan diberi berkah oleh para dewa.

Setelah Sidapaksa kembali, Sri Tanjung dipaksa oleh Raja Sulakrama untuk berpisah darinya.

Mendadak, Sidapaksa dan Sri Tanjung difitnah telah mengajak raja berzinah.

Meskipun mereka tidak bersalah, Sri Tanjung akhirnya dibunuh oleh Sidapaksa.

Namun, dengan campur tangan para dewa, Sri Tanjung dihidupkan kembali.

Sidapaksa kemudian diharuskan untuk membunuh Raja Sulakrama dalam sebuah peperangan yang berhasil dia lakukan.

Kisah Sri Tanjung adalah cerminan dari cinta yang kuat dan pengorbanan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Ramayana dan Kresnayana: Kisah Epik Hindu

Pada dinding Candi Utama, terukir relief dari kisah Ramayana dengan tokoh Rama dan Shinta, serta kisah Kresnayana dengan tokoh Krisna dan Rukmini.

Kisah-kisah epik Hindu ini menjadi bagian integral dari budaya dan kepercayaan masyarakat pada masa itu.

Kisah Ramayana menceritakan tentang Rama, seorang pangeran yang menghadapi berbagai ujian dalam hidupnya, termasuk penculikan Shinta oleh Ravana.

Kisah ini menggambarkan nilai-nilai kebajikan, kesetiaan, dan keberanian dalam menghadapi rintangan.

Kisah Kresnayana, di sisi lain, menceritakan tentang Krisna yang menculik dan mempersunting Rukmini.

Kisah ini menghadirkan unsur cinta dan perjuangan yang penuh warna dalam mitologi Hindu.

Relief-relief ini adalah contoh nyata bagaimana seni dan agama saling berdampingan dalam budaya Jawa pada masa itu.

Kisah-kisah epik ini tidak hanya diabadikan dalam tulisan, tetapi juga dalam bentuk seni ukir yang indah di dinding Candi Penataran.

Pesan yang Terukir dalam Batu

Melalui relief-relief yang menghiasi Candi Penataran, kita dapat melihat betapa kaya dan dalamnya budaya Indonesia kuno.

Setiap relief memiliki cerita dan pesan yang tersirat, mengajarkan nilai-nilai kehidupan, cinta, dan pengorbanan.

Mereka juga menjadi bukti keindahan seni dan kemajuan peradaban Hindu di Nusantara.

Sekarang, saat kita memandang relief-relief itu, kita dapat merenungkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Kita dapat menghargai keikhlasan Bubhuksah dan keberanian Gagang Aking, merasakan emosi dalam kisah cinta tragis Sri Tanjung, dan menggali hikmah dari kisah-kisah epik Ramayana dan Kresnayana.

Candi Penataran adalah bukti nyata warisan budaya Indonesia yang mempesona.

Ini adalah tempat di mana batu-batu bicara, menceritakan kisah-kisah lama yang masih relevan hingga hari ini.

Dan kita, sebagai penjelajah waktu yang melangkah di antara reruntuhan candi ini, memiliki kesempatan untuk mendengarkan dan memahami pesan-pesan mereka, sambil mengagumi keindahan seni yang abadi dalam batu.

Penutup

Candi Penataran adalah sebuah keajaiban sejarah yang mencerminkan kekayaan budaya, keagamaan, dan arsitektur Jawa Timur.

Dengan sejarah yang beragam, bangunan-bangunan yang megah, dan makna budaya yang mendalam, candi ini tetap menjadi destinasi yang menarik bagi para wisatawan dan peminat sejarah.

Keseluruhan kompleks candi ini adalah bukti gemilang dari kemegahan peradaban Hindu di Indonesia dan keindahan warisan budaya Jawa Timur.

Wisata Kota Tua Jakarta, Jelajahi Jejak Sejarah Uniknya!

Kota tua Jakarta, adalah sebuah sudut ibu kota dengan luas sekitar 1,3 km persegi, tempat bersejarah sekaligus tempat wisata di Jakarta.

Percaya atau tidak diawali dari sinilah Kota Jakarta berkembang menjadi sebuah kota metropolitan.

Kota yang seakan tidak pernah tidur, selalu dipenuhi dengan pergerakan ribuan manusia setiap harinya. Apalagi, Jakarta sekarang ini juga makin modern.

Namun siapa yang menyangka, kalau di tengah hiruk pikuk perkembangan kota Jakarta, jejak – jejak sejarah perkembangan Kota Jakarta masih bisa ditemukan dengan menyusuri tempat wisata yang berada di bagian utara ini.

Ya, masih terlihat jelas bagaimana sisa kejayaan masa kolonial yang pernah memerintah Batavia, hingga kemudian menjadi Ibukota Indonesia.

Dari Batavia, sekarang Jakarta berubah menjadi kota yang penuh dengan kesibukan.

Pusat pemerintahan dan tempat dimana perekonomian negara ini berputar, Otomatis menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota tersibuk di Indonesia.

Kota menjadi tujuan banyak masyarakat Indonesia untuk sekedar meraih “mimpi’.

Namun, mari kita lupakan sejenak mengenai keriuhan Jakarta.

Di tengah kesibukannya, ada suatu sudut kota ini yang menjadi saksi sejarah bagaimana perubahan sebuah kota kecil bernama Sunda Kelapa.

Kota yang kini bertransformasi menjadi sebuah kota metropolitan bernama Jakarta.

Ada banyak hal yang bisa kamu pelajari dan ketahui dari sana.

Kota Tua Jakarta, Kota Dimana Sebuah Peradaban Dari Kota Metropolitan Dimulai

 

Beberapa waktu lalu ketika saya melakukan perjalanan overland trip, jalur darat dari Denpasar Bali dengan tujuan akhir Jakarta.

Pada perjalanan ini saya berkesempatan untuk menyusuri sudut – sudut kota tua jakarta.

Saya ingin mencoba merasakan suasana historik yang hanya dapat ditemui di kota tua.

Dengan menyusuri kota tua ini anda akan merasa seakan – akan kembali kemasa lalu, masa kejayaan kota pelabuhan yang bernama Batavia.

Akses menuju kota tua cukup mudah, bisa menggunakan transjakarta dan turun di Halte Stasiun Kota, atau naik kereta dengan tujuan stasiun kota.

Turun dari starting point tadi, entah dari halte transjakarta ataupun stasiun kota, tetap akan melewati sebuah lorong bawah tanah dengan pintu keluar persis didekat Museum Bank Mandiri.

Deretan sepeda onthel yang ada di Kota Tua Jakarta
Deretan sepeda onthel yang ada di Kota Tua Jakarta

(Baca Juga : Wara Wiri Di Akhir Minggunya Jakarta)

Jangan Lupa Mampir Ke Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri bisa menjadi pilihan pertama untuk menikmati wisata historik di dekat pusat Kota Jakarta.

Letaknya paling dekat dengan akses masuk menuju kawasan kota tua.

Di dalam Museum Bank Mandiri bisa ditemukan berbagai macam benda yang berhubungan perbankan.

Ini juga merupakan salah satu museum di Jakarta favorit saya ya.

Benda – benda tersebut adalah asset lama Bank Mandiri yang mempunyai nilai sejarah, mulai dari buku besar hingga ATM dengan model jadul.

Seumur – umur, baru petama kali ini saya melihat buku besar dengan yang benar – benar besar ukurannya, padahal sudah jaman komputerisasi loh sekarang.

Rasanya sudah tidak ada lagi bank yang menggunakannya.

Beranjak dari Museum Bank Mandiri, disebelahnya ada Museum Bank Indonesia.

Sayangnya saya datang terlalu sore, jadi belum menyempatkan diri untuk melihat isi dari museum itu.

Rencana saya terpaksa berubah karena banyak museum di area Kota Tua Jakarta yang sudah tutup waktu itu.

Rencana pun berubah, dari wisata museum menjadi wisata jalan – jalan sore hari. Heheee!

Makin Sore Makin Asik!

Ramainya Kota Tua Jakarta, menjadi daya tarik tersendiri untuk warga Jakarta
Ramainya tempat wisata bersejarah ini, menjadi daya tarik tersendiri untuk warga Jakarta

Sore di kota tua yang cukup panas, tidak menyurutkan masyarakat untuk memenuhi area Kota Tua Jakarta.

Terbukti semakin sore malah semakin banyak yang berdatangan, entah hanya jalan – jalan sore, hunting foto atau sekedar menghabiskan waktu.

Bahkan terlihat beberapa bule yang datang untuk menikmati eksotisme kawasan wisata Jakarta yang bersejarah ini ini.

Kuliner juga bisa menjadi alternatif untuk menikmati kota tua, karena banyak makanan unik yang bisa ditemui di area ini.

Mulai dari Kerak Telor, makanan khas Betawi sampai Es Lilin Potong (es kacang hijau yang dipotong) yang sudah lama sekali tidak saya temui.

Yah, berjalan – jalan di Kota Tua Jakarta ternyata bisa membawa saya menikmati romantisme masa kecil, dengan menemukan makanan yang menjadi favorit saya di waktu dulu.

Pusat keramaian kota tua berada di depan balai kota atau di depan Museum Fatahillah.

Disini mulai dari anak – anak hingga orang tua semuanya berkumpul.

Dari sekedar pedagang kaki lima yang menjajakan jualannya, hingga yang menyewakan sepeda “onthel“.

O iya, jangan lupa menyempatkan diri untuk mencoba sepeda “onthel” disini, sebelum sepeda “onthel” benar – benar menghilang dari muka bumi tergantikan dengan mesin.

Jangan Lupa Mampir Juga Ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia

Pelabuhan Sunda Kelapa, berada di dekat Kota Tua Jakarta
Pelabuhan Sunda Kelapa, berada di dekat Kota Tua Jakarta

(Baca Juga : Photo Story : Suatu Ketika Di Pelabuhan Sunda Kelapa Yang Fotogenik!)

Beranjak dari kawasan balai kota, kita dapat menemukan sebuah pelabuhan yang berisi puluhan kapal Pinisi.

Pelabuhan itu adalah pelabuhan sunda kelapa di dalamnya berjajar rapi puluhan kapal pinisi yang digunakan untuk mengangkut barang antar pulau.

Saya baru tahu, kalau ternyata tempat ini masih sangat aktif. Aktifitas bongkar muat barang dari perahu masih terjadi hingga saat ini.

Kawasan Kota Tua Jakarta sebenarnya berpotensi untuk menjadi kawasan yang bisa digunakan untuk bersantai dikala liburan, wisata bersejarah untuk edukasi, atau sekedar untuk hunting foto.

Namun pada beberapa tempat di kota tua terlihat sangat tidak terawat, sampah bertebaran dimana – mana. Saya jadi agak sedih melihatnya.

Mungkin hal tersebut memang masalah klasik, pemerintah yang kurang bisa merawat, atau pengunjung yang masih suka buang sampah sembarangan.

Saran saya, paling tidak sebagai pengunjung hendaknya juga ikut menjaganya.

Jika tidak ingin kawasan bersejarah di Jakarta ini hancur.

Sayang sekali lah kalau sampai rusak, karena kota tua adalah saksi satu satunya perkembangan Ibu Kota Jakarta.

Cara Pergi Ke Kota Tua Jakarta Ini Bagaimana?

Ada beberapa cara untuk pergi kesana.

Namun, naik Transjakarta adalah salah satu moda transportasi umum favorit saya untuk bepergian di Jakarta.

Karena Busway Transjakarta ini cukup bisa diandalkan untuk menjangkau pelosok Jakarta dan lumayan bisa menembus kemacetan Jakarta.

Termasuk untuk pergi kesini.

Nah, karena itu disini saya mau berbagi pengalaman naik Busway Transjakarta ke Kota Tua Jakarta.

Mungkin kamu ada yang ingin pergi kesini dengan naik Transjakarta juga.

Yang jelas, dari arah manapun, kamu bisa pergi kesini dengan terlebih dahulu menuju Halte Transjakarta Harmoni Central.

Baru bisa lanjut ke Kota Tua.

Nah, ada yang suka bepergian naik transjakarta juga disini?

 

 

Suasana Malam Hari Wisata Kota Tua Jakarta Keren Juga Ya!

Wah! Suasana Malam Hari Wisata Kota Tua Jakarta Keren!

Katanya sih begitu. Jakarta perlu punya banyak hiburan berupa taman kota!

Itu yang terpikirkan didalam otak saya ketika berkunjung ke Kota Tua Jakarta untuk yang kesekian kalinya.

Lho? Kenapa saya bisa berpikir seperti itu?

Gampang saja, coba lihat penuhnya area yang luasnya enggak seberapa ini.

Padahal, waktu itu saya datang tidak pada siang hari seperti biasanya lho!

Saya datang ke kota tua pada malam hari, di waktu malam minggu.

Ataukah memang karena malam minggu ya membuat tempat ini semakin ramai?

Hari itu malam minggu pertama saya mengunjungi Kota Tua Jakarta.

Saya ingin melihat kondisi old jakarta diwaktu malam, mumpung saya masih tinggal di ibu kota untuk beberapa lama.

Ternyata yang saya dapatkan enggak terlalu jauh berbeda dengan kondisi pada siang hari lho.

Bedanya, malam hari kota tua akan lebih banyak dihiasi dengan lampu yang berwarna – warni, dan ditambah dengan sedikit hiruk – pikuk penduduk Jakarta yang datang ke tempat ini.

Kota Tua Jakarta sendiri banyak berubah, jika dibandingkan dengan kunjungan saya terakhir kali.

Pertunjukan seperti ini selalu ada di Kota Tua Jakarta. Siang juga ada lho, tetapi ternyata lebih keren kalau malam hari :D
Pertunjukan seperti ini selalu ada di Kota Tua Jakarta. Siang juga ada lho, tetapi ternyata lebih keren kalau malam hari 😀

Tempat yang pernah menjadi pusat pemerintahan Jakarta ini terlihat semakin rapi saja, meskipun belum seratus persen bersih dari sampah yang dibuang sembarangan.

Bahkan sekarang ada tempat khusus tersendiri yang disediakan untuk pedagang kaki lima berjualan.

Mencari tempat parkir motor pun enggak ribet karena sudah disediakan, namun saya enggak menyarankan untuk parkir di parkir liar ya 🙂

Di bagian tengahnya, diantara Museum Fatahillah dan Kantor Pos adalah pusat keramaian Kota Tua Jakarta ketika malam hari.

Sepertinya di bagian tengah tersebut sudah secara otomatis menjadi arena pertunjukan utama.

Yah, Dibagian tengah kota tua memang sering ada pertunjukan sih.

Mulai dari pertunjukan debus yang mempertunjukkan kesaktian menyembur api, hingga penjual jamu yang sedang promosi.

Bisa kebayang enggak ramainya kota tua dalam kondisi seperti itu?

Ramai sekali memang, bahkan hujan gerimis pun enggak menyurutkan keramaian tempat ini.

Begitulah, dan sepertinya saya masih sering kembali ke tempat ini. Karena beberapa museum yang ada di kota tua masih belum saya kunjungi. 🙂

Suasana Malam Hari Wisata Kota Tua Jakarta Keren Ya!

Ramai, tapi seruuu! Seperti ini malam harinya kota tua :D
Ramai, tapi seruuu! Seperti ini malam harinya kota tua 😀
Cafe Batavia sepertinya enak buat malam mingguan. Lain kali mau saya coba, malam mingguan di cafe ini :)
Cafe Batavia sepertinya enak buat malam mingguan. Lain kali mau saya coba, malam mingguan di cafe ini 🙂
Hujan pun enggak mengurangi asiknya menghabiskan akhir pekan di tempat ini.
Hujan pun enggak mengurangi asiknya menghabiskan akhir pekan di tempat ini.
Cahaya lampu menghiasi malam di kota tua :)
Cahaya lampu menghiasi malam di kota tua 🙂
Mari berdansa di Kota Tua Jakarta?
Mari berdansa di Kota Tua Jakarta?
Hujan - hujanan disini juga seruuu! Basah? Siapa takut! :D
Hujan – hujanan disini juga seruuu! Basah? Siapa takut! 😀

Old Jakarta And A Crowded Night!

Suatu malam, saya pergi ke sebuah kawasan bersejarah di Jakarta.

Sebelumnya saya sering kesana ketika siang hari, namun kali ini saya datang kesana ketika malam, malam minggu pula.

Coba tebak? Ternyata tempat ini lebih menyenangkan dikunjungi ketika malam hari. Mau mengunjungi kota tua juga?

One one night, I went to one of historical place in Jakarta.

I often went there during the day, but this time I went there on saturday night.

Guess what? This place was much better than when you visit it during the day.

Wanna try to visit it too?

Photograph By : Fahmi
Gear : Sony Nex F3 Lens Kit

Tidak bebeda dengan kondisi siang hari, malam harinya kota tua Jakarta masih begitu ramai. Semuanya tumpah ruah di tempat ini.
Tidak bebeda dengan kondisi siang hari, malam harinya kota tua Jakarta masih begitu ramai. Semuanya tumpah ruah di tempat ini.
Hampir semua pengunjung kota tua Jakarta terpusat di area terbuka yang berada di depan museum Fatahillah.
Hampir semua pengunjung kota tua Jakarta terpusat di area terbuka yang berada di depan museum Fatahillah.
Beberapa ada yang mehabiskan waktu, menikmati suasana Jakarta tempo dulu di cafe ikonik yang ada di kota tua, Batavia Cafe.
Beberapa ada yang mehabiskan waktu, menikmati suasana Jakarta tempo dulu di cafe ikonik yang ada di kota tua, Batavia Cafe.
Menghabiskan malam hari di kota tua Jakarta menurut saya malah lebih menyenangkan. Apalagi jika ditemanih hujan rintik - rintik yang mengguyur seperti ini.
Menghabiskan malam hari di kota tua Jakarta menurut saya malah lebih menyenangkan. Apalagi jika ditemanih hujan rintik – rintik yang mengguyur seperti ini.
Cahaya lampu yang ada di beberapa museum juga menambah cantiknya suasana di sekitar kota tua Jakarta.
Cahaya lampu yang ada di beberapa museum juga menambah cantiknya suasana di sekitar kota tua Jakarta.
Sementar ada salah satu sudut kota tua yang dipenuhi dengan para penjual, yang mengais rejeki dari para pengunjung.
Sementar ada salah satu sudut kota tua yang dipenuhi dengan para penjual, yang mengais rejeki dari para pengunjung.
Di salah satu sudut lainnya ada sesuatu yang unik seperti ini. Ini adalah boneka yang mirip wayang golek, yang bisa bergerak dengan diiringi house music. Semacam wayang era modern? Saya tidak tahu pastinya :)
Di salah satu sudut lainnya ada sesuatu yang unik seperti ini. Ini adalah boneka yang mirip wayang golek, yang bisa bergerak dengan diiringi house music. Semacam wayang era modern? Saya tidak tahu pastinya 🙂
Jadi, kalau sedang berada di Jakarta dan bingung mau kemana, mungkin bisa mencoba merasakan suasana yang sedikit berbeda di kota tua ini.
Jadi, kalau sedang berada di Jakarta dan bingung mau kemana, mungkin bisa mencoba merasakan suasana yang sedikit berbeda di kota tua ini.

PS : Selalu pegang teguh prinsip Ecotourism, jangan pernah merusak atau mengotori alam, Jaga Untuk Anak Cucu Kita. Belum tahu apa itu ecotourism? baca disini (Eco Traveling yaa, Bukan Ego Traveling!!!)

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Foto Hitam Putih Kota Tua Jakarta

Disini saya juga berbagi pengalaman melalui foto yang saya abadikan selama berkunjung ke tempat wisata Jakarta yang bersejarah ini.

Dibawah adalah koleksi foto yang saya ambil ketika berkunjung ke ibu kota.

Ternyata ada sisi romantisme di tepi ibukota, sebuah kota tua, dengan hiruk – pikuknya ditengah dunia serba modern ini.

Taken By : Fahmi
Kamera : Sony A200 + Kit Lens

Pemandangan setiap hari dari salah satu tempat wisata di Jakarta yang cukup bersejarah.
Pemandangan setiap hari dari salah satu tempat wisata di Jakarta yang cukup bersejarah.
Setiap harinya jalanan ini selalu penuh sesak dengan kendaraan.
Setiap harinya jalanan ini selalu penuh sesak dengan kendaraan.
Ada banyak kuliner khas Indonesia juga kuliner Jakarta bisa kamu temukan disini.
Ada banyak kuliner khas Indonesia juga kuliner Jakarta bisa kamu temukan disini.
Salah satunya adalah Es Potong yang mulai jarang ditemukan.
Salah satunya adalah Es Potong yang mulai jarang ditemukan.
Tempat ini memang tidak pernah sepi setiap harinya ya.
Tempat ini memang tidak pernah sepi setiap harinya ya.
Ada banyak yang menjajakan barang di dekat kawasan wisata Kota Tua Jakarta.
Ada banyak yang menjajakan barang di dekat kawasan wisata Kota Tua Jakarta.
Ada juga yang seperti ini disini.
Ada juga yang seperti ini disini.
Kira-kira seperti apa ya kondisi tempat ini pada jaman kolonial? Apa kawasan wisata Kota Tua Jakarta masih sama seperti sekarang?
Kira-kira seperti apa ya kondisi tempat ini pada jaman kolonial? Apa masih sama seperti sekarang?
Kadang ada pertunjukan seperti ini di tempat wisata Jakarta ini.
Kadang ada pertunjukan seperti ini di tempat wisata Jakarta ini.
Kamu bisa juga menyewa sepeda untuk keliling kawasan wisata Jakarta ini.
Kamu bisa juga menyewa sepeda untuk keliling kawasan wisata Jakarta ini.
Naik sepeda keliling kawasan wisata Kota Tua Jakarta seperti ini maksudnya.
Naik sepeda keliling kawasan wisata Kota Tua Jakarta seperti ini maksudnya.
Atau sekedar berfoto mengabadikan suasana tempat wisata populer di Jakarta ini.
Atau sekedar berfoto mengabadikan suasana tempat wisata populer di Jakarta ini.
Ada banyak yang sengaja berkunjung ke kawasan wisata Kota Tua Jakarta hanya untuk berburu foto. Mungkin nantinya akan dipajang di media sosial masing masing.
Ada banyak yang sengaja berkunjung ke kawasan wisata Kota Tua Jakarta hanya untuk berburu foto. Mungkin nantinya akan dipajang di media sosial masing

Sejarah, Ciri, Keunikan Tari Gandrung dari Banyuwangi [ + Video ]

Gandrung awalnya merupakan sebuah tari tarian yang dilakukan penari dari daerah Banyuwangi yang digunakan untuk ritual persembahan kepada Dewi Sri, sebagai bentuk rasa syukur ketika panen.

Biasanya mereka para penari yang dianggap sudah mampu dalam menyanyi dan menari akan menjalani ritual Meras Gandrung, sebelum menjadi Penari Gandrung professional.

Pertunjukan tari Meras Gandrung yang dipentaskan di Taman Gandrung Terakota ini merupakan sisi lain dari Tarian Gandrung yang ada di Banyuwangi.

Tari akan diawali dengan suasana Banyuwangi pra kemerdekaan dimana Tari Gandrung dimainkan oleh laki-laki yang juga merangkap sebagai mata-mata.

Baru kemudian setelah Indonesia merdeka, para penari ini akan dipilih oleh yang lebih senior untuk menjadi penari gandrung professional.

Penari akan melewati penataran, dan penari Gandrung Muda akan dipupuh dalam proses yang menyakitkan karena perang batin antara energi positif dan negatif dalam diri penari.

Setelah dipupuh, penari akan diwisuda (meras), dan akan menjadi penari gandrung professional, hingga bisa bergabung dengan penari Gandrung Lainnya untuk menarikan Tarian Jejer Gandrung.

 

 

Video Pertunjukan Tari Meras Gandrung Dance At Taman Gandrung Terakota Theatre Banyuwangi

Ini adalah video pertunjukan tari tarian Meras Gandrung yang pernah diadakan di Taman Gandrung Terakota Banyuwangi.

Kalau kamu penasaran seperti apa keindahan tarian ini, silahkan ditonton saja.

Jangan lupa like, share dan subscribe ya!

 

Disebutkan kalau tari Gandrung dari Banyuwangi ini masih sealiran dengan Tari Jaipong di Jawa Barat dan Tari Ronggeng di Jawa Tengah.

Biasanya tari tarian ini sering dimainkan untuk meramaikan suatu event atau acara.

Misalnya acara resepsi pernikahan, panen raya dan beberapa acara seremonial lainnya.

Namun sekarang tarian yang khas dari Suku Osing Banyuwangi ini juga dipertunjukkan untuk para turis.

 

 

Informasi Hingga Sejarah Tarian Khas Suku Osing Banyuwangi

Tari Gandrung adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Gandrung ini adalah merupakan seni pertunjukan tari tarian yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan antara budaya Jawa dan Bali.

Tarian ini adalah salah satu bentuk kebudayaan asli dari Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banyuwangi.

Disebutkan kalau Gandrung perempuan pertama yang dikenal dalam sejarah adalah Semi, seorang anak kecil yang pada tahun 1895 masih berusia sepuluh tahun.

Pada mulanya Tari gandrung ini hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya.

Namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis muda yang sebenarnya bukan keturunan gandrung mempelajari tarian ini dan kemudian menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian.

Tari Gandrung dari Banyuwangi ini memiliki gerakan yang indah dan penuh kelezatan, seperti terlihat pada video yang ada diatas.

Gandrung awalnya merupakan sebuah tari tarian yang dilakukan penari dari daerah Banyuwangi yang digunakan untuk ritual persembahan kepada Dewi Sri, sebagai bentuk rasa syukur ketika panen.

Gerakannya terdiri dari gerakan tangan yang meliuk-liuk, gerakan kaki yang lembut, serta gerakan tubuh yang mengikuti irama musik.

Musik yang digunakan dalam tari ini biasanya merupakan musik khas Banyuwangi dan Bali yang dibawakan dengan instrumen gamelan.

Penari Gandrung biasanya mengenakan busana khas Banyuwangi yang terdiri dari kebaya dengan hiasan bunga-bunga dan ikat pinggang yang dihiasi dengan manik-manik.

Rambut mereka juga diikat dengan tali dan dihiasi dengan bunga-bunga.

Tari tarian ini sering dipertunjukkan pada acara-acara kultural atau perayaan daerah.

Selain itu, tarian ini juga kerap dijadikan sebagai salah satu atraksi wisata di Banyuwangi.

Penari Gandrung juga sering diundang untuk tampil di berbagai acara nasional maupun internasional.

Tari Gandrung merupakan salah satu atraksi wisata yang juga merupakan warisan budaya dari Banyuwangi yang harus terus dijaga dan dikembangkan agar tidak hilang.

Selain sebagai simbol kebudayaan Banyuwangi, tari Gandrung juga dapat menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat setempat.

Oleh karena itu, mari kita dukung dan lestarikan tari tarian ini sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.

Nah, kalau kamu ada waktu untuk liburan ke Banyuwangi, jangan lupa untuk menyempatkan diri melihat tari ini ya!

My Instagram : instagram.com/catperku